Contoh Wujud Kerukunan Antar Umat Beragama dalam Kehidupan Sehari-hari

ngasih.com. Semalam listrik padam, padahal tetangga sebelah menggelar sembahyangan dengan para jemaat dari lingkungan sekitar. Saya pinjamkan satu unit lampu LED emergency kepadanya karena sungguh tak elok bila acara sembahyangan harus berlangsung temaram. Usai sembahyangan beliau datang, kembalikan lampu LED sambil berikan jajanan. Hal semacam ini biasa kami lakukan.

contoh kerukunan umat beragama dengan pemerintah di masyarakat dg intern tri perilaku konkret indonesia makalah antar dalam kehidupan sehari hari bali artikel yang dilakukan oleh rasulullah berbeda bentuk berikan 3 beserta contoh-contoh ceramah tentang cerita

Dulu istri saya dapat giliran menghelat pengajian pas air PDAM mati. Tanpa diminta sahabat saya yang punya sumur itu mengeluarkan ember besar, menarik selang dan memberi kami pasokan air melimpah untuk memasak dan mencuci alat makan seusai pengajian. Tetangga saya itu juga paling awal menengok orang sakit untuk dia doakan tanpa menunggu komando dari ketua dasawisma.

Kebersamaan, kerukunan, dan sikap saling pengertian seperti ini sudah biasa, bukan sesuatu yang istimewa, juga bukan hal yang perlu dibesar-besarkan oleh politisi atau caleg yang butuh simpati massa. Rakyat akar rumput tidak suka ribet. Orang hidup memang selayaknya saling membantu. Istilah ‘toleransi agama‘ itu bahkan seharusnya tak ada, sebab arti kata ‘bertoleransi’ adalah menenggang rasa, bersabar atau menahan diri terhadap sesuatu yang keliru atau tidak bermutu.

Baca Juga :  10 Contoh Keajaiban Alam di Indonesia dengan Keindahan yang Telah Diakui Dunia

Yang benar adalah hidup rukun saling mengisi dan saling membantu. Orang menggelar sembahyangan itu kan bagus. Mereka menyanyikan lagu-lagu pujian, saling mengingatkan untuk menebalkan keimanan dan tak pernah lupa mendoakan manusia lain sesama penghuni alam.

Sama saja dengan kita para Muslim dan mereka yang berlainan agama: Hindu, Budha, Kong Hu Chu dan aneka aliran. Yang penting kita tidak ikut ritualnya, sebab masing-masing ummat beragama punya protokol atau tatacara yang berbeda untuk mengekspresikan rasa cinta dan syukurnya kepada Tuhan mereka.

Rakyat di bawah maunya rukun-rukun saja. Yang merusak kedamaian ini adalah siluman musiman yang bergentayangan tiap kali negeri kita menyongsong Pilpres atau Pilkada. Muka-muka mereka cukup familiar. Jejak digital tingkah polah mereka terekam akurat di media.

Sebagian yang miskin wawasan memang terpikat ocehan mereka bahkan memberhalakannya. Gerakan mereka terkesan maha dahsyat itu semata-mata karena diblow-up oleh media yang ada sponsornya. Tapi alhamdulillah, mayoritas bangsa besar ini masih dijaga ahlak dan akal sehatnya. Tetaplah rukun, tetaplah waras wahai saudaraku. Bangsa dan negara kita sedang menyongsong masa kejayaannya. Cobaan yang kita hadapi tentu semakin besar pula. Arif Subiyanto

Loading...
error: